Selasa, 09 Februari 2010

YK's reboil backpacking adventure (part 1) - Bagian A


Sudah berlalu masa-masa itu, tapi kenangan yang ditinggalkan masih membekas di hati masing-masing pasukan yang terdiri dari 16 orang, yang selanjutnya saya sebut pasukan 16, sebuah memoar dari kota Yogyakarta.

Sebuah kegiatan yang saya namakan YK's reboil bacpacking adventure adalah sebuah program mengisi liburan dengan berwisata, tapi tetap kental dengan nuansa mahasiswa (alias murah meriah). YK adalah singkatan untuk kota Yogyakarta, dan reboil adalah nama sebutan untuk kelas 4EB01 PTA/ATA 2009-2010, Jurusan Strata Satu Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma. Kata backpacking adventure saya pilih karena memang selalu saja ada petualangan-petualangan seru dalam wisata yang dilaksanakan ala ransel (dengan anggaran yang 'miring'). Part 1 saya tulis, karena memang direncanakan akan ada misi kedua yang kembali akan dilaksanakan di Yogyakarta (masih banyak tempat yang belum sempat kami kunjungi).

Sebelum kegiatan ini saya ceritakan panjang lebar, saya dengan bangga inigin menyebutkan komposisi pasukan 16 yang berperang dalam misi "YK's reboil backpacking adventure". Mereka yang telah bertempur dengan gagah berani antara lain : (urut secara alfabet)
1. Ade Jahroh (Ade)
2. Agung Maulana (Agung)
3. Andry Ferbian (Andri)
4. Chian Vicasson (Cian)
5. Dorlan Patiaraja Silalahi (Dorlan)
6. Dwi Suhartanto (Dwi #)
7. Dwina Septiningtyas (Dwina)
8. Evylina Luviana (Evi)
9. Fitri Tri Diyanti (Ipit)
10. Hesti Kusuma (Hesti)
11. Irhaf Sutisna (Irhaf)
12. Marianah Padang (Mari)
13. Mohammad Rasyid Ridho (Rido)
14. Resha Kusumo Syahrir (Resa)
15. Suryanti (Yanti)
16. Unrico Untung (Uun #)

# : legiun asing yang turut serta menyukseskan misi YK's reboil backpacking adventure
(...) : nama panggilan pasukan
Unrico berasal dari 4EB02, dan Dwi berasal dari 4EB07.

Mereka semua telah bertempur dengan gagah berani, walau terluka selama misi YK's reboil backpacking adventure, tetapi akhirnya mereka selamat dan menyukseskan misi tersebut.

Rencana telah dibuat jauh-jauh hari dengan modal awal, memiliki tempat menginap di Daerah Miliran, Umbul Harjo, Yogyakarta (rumah milik kakek dari Resa). Modal tersebut sangat berharga karena dapat menghemat anggaran untuk tempat menginap. Benar saja ternyata, Rp 0,- kami habiskan untuk tempat menginap tersebut selama misi YK's reboil backpacking adventure berlangsung (fasilitasnya yaitu ruang untuk tidur, dua unit kamar mandi, dan segelas teh untuk masing-masing pasukan di pagi hari).

Pasukan bahu membahu untuk menyiapkan anggaran sebesar Rp 300.000,- / per pasukan, yang akan digunakan untuk membeli tiket KA Progo (kereta ekonomi jurusan dari Stasiun Senen, DKI menuju Stasiun Lempuyangan, DIY), menyewa mobil Isuzu Elf untuk transportasi selama 2 hari saat misi berlangsung, pembelian tiket masuk seluruh objek wisata di provinsi DIY & Jateng, dan biaya lainnya yang sekiranya termasuk dalam akomodasi dan transportasi pasukan selama misi YK's reboil backpacking adventure berlangsung.

Selama anggaran dikumpulkan, pasukan mulai menyusun rencana tentang semua pergerakan wisata yang akan dilakukan di provinsi DIY. Perundingan dan perdebatan yang alot mewarnai proses perencanaan tersebut. Akhirnya telah ditetapkan, misi YK's reboil backpacking adventure akan dilaksanakan selama 7 hari yaitu dari tanggal 1 Februari hingga 7 Februari 2010, dengan agenda yang telah tersusun secara tersirat di benak tiap-tiap pasukan 16.

Selanjutnya akan diceritakan agenda pasukan 16 dalam misi YK's reboil backpacking adventure dalam format harian (per tanggal) di Bagian B, C, D, dan E.

Sabtu, 09 Januari 2010

anjing


sebuah puisi
oleh reshakusumosyahrir


Mulutku mulai berbusa
Gigi taringku terasa tajam dan melukai bibirku
Sebuah garis merah dan dalam tercipta
lalu mengeluarkan air berwarna merah
Air liurku tak bisa ku tahan
Mereka mengalir dan membasahi daguku
Mereka pun terjatuh ke bumi
Maafkan aku kawan
Setelah kotoranku, kini kau harus menadah liurku

aku hanya seekor anjing kampung
dengan mulut yang berbusa

aku hanya seekor anjing kampung
yang dicibir orang-orang kampung

aku hanya seekor anjing kampung
yang selalu dilempari kerikil

aku hanya seekor anjing kampung
yang tak dianggap oleh maling jemuran

aku hanya seekor anjing kampung
yang gonggongannya tak dihiraukan

aku hanya seekor anjing kampung
yang tak diizinkan mendapat usapan kepala

aku hanya seekor anjing kampung
yang ingin bermain dan berlari bersama anak-anak kampung

aku hanya seekor anjing kampung
dengan puluhan kata hingga mulutku berbusa


bulb


a poetry
by reshakusumosyahrir


we're the bright and clear glass,
that strong and fragile at the same time,
and see you swallow the voltages
you won't be knowing about everything
just swallow it, piece by piece
and we've just let you soak and wet
and let go your heat
but the wind won't blow your light

the heat
the power
the electric pulse
the energy
they climb every inch of your body
you know that we feel it to
we force you to share it with us
the question is "why?"
and we said because we have to
and we're sorry to do so

Minggu, 25 Oktober 2009

sebatang rokok atau dua bungkus buras

a short story
by reshakusumosyahrir

Peron jalur 6 dan 7, Stasiun Bogor, pada pagi hari yang segar. Burhan, sebut saja demikian namanya. Pria setengah baya, dengan kemeja dan celana bahan rapi serta tas punggung menempel di lengan kirinya, ia merogoh kantung di sebelah kiri kemejanya dan mengeluarkan secarik uang Rp 1.000,-. Lalu ia berucap, "Bang!". Dengan segera, seseorang dengan rompi warna-warni dan menggendong tas berisi penuh jajanan datang. Burhan pun kembali berucap, "Pilter bang!", seraya menyodorkan secarik uang tadi. Dengan sesegera mungkin, pria rompi warna-warni memberikan sebatang rokok yang dipesan. Pria rompi warna warni pun berucap "Yo! Makasih Bos!" (sapaan untuk langganan), sambil berlalu dan kembali melompat ke peron-peron berikutnya. Burhan menyelipkan batang tadi diantara bibir keringnya, merogoh saku celana dan mengeluarkan pemantik tuanya. "Crek... Crek... Crekk.. Jresss!" pemantik itupun mengeluarkan api, dan Burhan langsung membakar ujung batang rokok tadi sambil beberapa kali menghisap pendek rokok tadi, agar tercipta bara di ujungnya. Menit berganti menit, dia terus menghisap dalam-dalam rokoknya dan membumbungkan asap-asap kelabu ke angkasa. Setelah dirasa terlalu pendek, dia buang batang tersebut dengan bara yang masih menyala, ke tempat sampah.




Syu'aeb, kembali sebut saja demikian. Seorang pria dengan dandanan sederhana, dengan kaos polo shirt sisa impor, dan celana bahan lusuh, serta topi bertuliskan inisialnya, berdiri di gerbong ke empat KRL Jakarta - Bogor tepat di jalur 7. Tiba-tiba, seorang tuna rungu, melompat dari gerbong tiga ke gerbong empat, dan kembali bernyanyi melanjutkan dendangannya dari gerbong tiga. Dengan penuh percaya diri ia bernyanyi, tanpa mempedulikan apa pendapat para penumpang yang melihatnya. Setelah ia merasa cukup berdendang, ia menyodorkan tangan kurusnya yang kotor ke para penumpang. Dia terus melakukannya sepanjang gerbong empat, dan mendekati
Syu'aeb. Syu'aeb dengan perlahan merogoh saku kanan celana bahannya, dan mengeluarkan secarik uang Rp 1.000,-. Tibalah giliran Syu'aeb. Sang tuna rungu pun menyodorkan tangannya ke arah Syu'aeb, dan Syu'aeb memberikan secarik uang tadi. Gerbong empat adalah akhir dari suatu set KRL, sang tuna rungu melompat ke pintu paling ujung, dan berlari ke arah ibu-ibu penjual nasi uduk dan berbagai gorengan di jalur tujuh. Tuna rungu mengambil dua bungkus buras (lontong dengan isi oncom atau wortel) dari deretan dagangannya, dan langsung memberi secarik uang Rp 1.000,- tadi. Dengan lahap ia menyantap lontong tadi satu per satu.


Itu semua adalah pilihan. Pilihan yang kadang terjadi dalam hidup kita. Sebuah ironi yang menyedihkan. Di saat kita bisa membantu saudara kita untuk mengisi peurnya, terkadang kita malah membakar kertas dan menghisap racun-racunnya ke paru-paru kita. Ayo saudara-saudaraku, kita mulai ubah pola pikir, dan jadi lebih peduli pada orang-orang di sekitar kita.



Selasa, 13 Oktober 2009

Tiga Akuntan Publik dan Lima Kantor Akuntan Publik Dibekukan

Ditugaskan oleh Dosen Ibu Renny Nur'ainny
Oleh Resha Kusumo Syahrir

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dengan dasar Peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008 tentang jasa akuntan publik, menetapkan pemberian sanksi pembekuan izin usaha pada tiga Akuntan Publik (AP) dan lima Kantor Akuntan Publik (KAP).


Tiga akuntan publik yang dibekukan izin usahanya yaitu:
AP Drs. Basyiruddin Nur
(KMK Nomor. 1093/KM.1/2009) Pelanggaran SA-SPAP pada Audit PT Datascrip dan Anak Perusahaan tahun buku 2007
AP Drs. Hans Burhanuddin Makarao
(KMK Nomor. 1124/KM.1/2009) Pelanggaran SA-SPAP pada Audit PT Samcon tahun buku 2008
AP Drs. Dadi Muchidin
(KMK Nomor. 1140/KM.1/2009) Izin KAP dibekukan.


Lima kantor akuntan publik yang dibekukan izin usahanya yaitu:
KAP Drs. Dadi Muchidin
(KMK Nomor. 1103/KM.1/2009) Tidak menyampaikan Laporan Tahunan KAP tahun takwin 2008
KAP Matias Zakaria
(KMK Nomor. 1117/KM.1/2009) Tidak menyampaikan Laporan Tahunan KAP tahun takwin 2007 dan 2008
KAP Drs. Soejono
(KMK Nomor. 1118/KM.1/2009) Tidak menyampaikan Laporan Tahunan KAP tahun takwin 2005 dan 2008
KAP Drs. Abdul Azis B.
(KMK Nomor. 1119/KM.1/2009) Tidak menyampaikan Laporan Tahunan KAP tahun takwin 2005, 2007, dan 2008
KAP Drs. M. Isjwara
(KMK Nomor. 1120/KM.1/2009) Tidak menyampaikan Laporan Tahunan KAP tahun takwin 2007 dan 2008


Dari tiga AP dan lima KAP yang dikenakan sanksi pembekuan di atas, baik dari masalah pelanggaran Standar Auditing (SA) - Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) hingga Penyampaian laporan tahunan KAP, dapat ditarik benang merah permasalahan.
Disiplin, adalah benang merah permasalahan tersebut. AP dan KAP di atas dinilai tidak memiliki disiplin dalam menjalankan kewajibannya, dan dipandang tidak memiliki komitmen yang kuat dalam menjalankan aktifitas profesionalnya.
Berbagai pelanggaran yang dilakukan membuktikan adanya sebuah kepentingan terselubung yang diwakili oleh para AP dan KAP tersebut, dan kepentingan tersebut dirasakan lebih mendesak dibandingkan kepatuhan pada SA-SPAP.
Kasus ini dapat memberi citra buruk pada profesi akuntan publik, terutama pada firma-firma akuntan publik dalam negeri. Bayang-bayang The Big Four di Indonesia menjadi semakin kuat.




Sebagai Landasan Informasi untuk penulisan saya di atas:
http://www.inilah.com

Senin, 12 Oktober 2009

TEPI

sebuah puisi
oleh: Resha Kusumo Syahrir

hitam kuning putih atau merah
dialah warna tepianmu
merekalah tempatmu bersimbah

tak peduli saat kau terhina

tak peduli saat kau teteskan nutfah

tak peduli saat kau basah dan menghitam

tak peduli saat kau terdiam dan terduduk

tak peduli saat kau kau lepas keningmu ke tanah

hanya sekejap
hanya menoleh
ke samping dan ke belakang
sedang Dia...

tidak tertarik
tidak acuh
sekuat tenaga...
kau lemparkan bola matamu ke balik bukit
sedang kau terjaga di hadapan-Nya
dan kau tak menengok warna tepianmu

Etika Akuntan Publik dalam Menerima Parcel

TUGAS ETIKA PROFESI AKUNTANSI
Oleh : Resha Kusumo Syahrir (20206790 - 4EB01)

Akuntan publik dapat dipandang sebagai profesi yang menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalisme dan kepercayaan (Trust). Setiap akuntan publik harus memiliki keandalan serta integritas dan obyektifitas dalam menjalankan profesinya. Sifat unik yang membedakan profesi akuntan publik dari jasa profesional lainnya adalah Independensi. Independensi membuat profesi akuntan publik bisa dikategorikan spesial di mata orang awam. Sifat independensi tersebut bila tetap terjaga makan kepercayaan publik / masyarakat luas pada profesi akuntan publik juga akan tetap ada.

Sudah menjadi hal yang biasa bagi setiap manusia untuk saling memberi dan berbagi pada sesamanya. Manusia yang mampu kepada yang mampu, manusia yang mampu kepada yang kurang mampu, manusia yang kurang mampu kepada yang mampu, dan manusia yang kurang mampu kepada yang kurang mampu. Lingkaran interaksi sosial tersebut dijadikan landasan untuk saling memberi, dan tidak ada yang aneh untuk hal tersebut. Ketulusan adalah yang terpenting dari semuanya, tapi terkadang hal itu dikotori oleh maksud-maksud dan kepentingan-kepentingan sebagian orang yang ingin mengambil keuntungan tertentu dari aktifitas saling berbagi tersebut. Mulai dari sekedar ajang adu gengsi, pamer, hingga aksi suap dan pemberian gratifikasi yang tidak semestinya oleh oknum-oknum tertentu.

Akuntan publik sebagai manusia pastilah juga mengalami hal tersebut. Pemberian hadiah berupa parcel atau apapun bentuknya pastilah ada baik dalam fitrahnya sebagai manusia ataupun dalam posisinya sebagai seorang profesional. Jika kita lihat dari sisi Independensi dan Integritas_Obyektifitas pada sisi profesionalnya sebagai akuntan publik, maka jika akuntan publik dan keluarganya diberi hadiah dalam bentuka apapun (dalam hal ini parcel) dari pihak Klien Audit (Auditee) maka tidak sepatutnya hadiah tersebut diterima. Akuntan publik dan keluarganya, yaitu di dalamnya yang termasuk akuntan publik adalah:
1. Anggota dari tim penugasan Audit.
2. Mereka yang dalam posisi mempengaruhi penugasan audit dalam rantai komando perusahaan.
3. Rekanan dan para manajer yang memberikan lebih dari 10 jam jasa non audit kepada klien.
4. Rekanan dalam kantor rekanan yang terutama bertanggungjawab untuk penugasan audit.
Untuk Klien/ auditee adalah diantaranya calon Klien, Klien yang sedang ditangani, dan Mantan Klien, beserta seluruh perusahaan anakannya.

Hal tersebut dimaksudkan agar sifat Independensi akuntan publik bisa dijaga, dan dalam menjalankan aktifitasnya akuntan publik dapat bersikap lebih profesional dengan integritanya sebagai seorang profesional dan bersikap objektif (tidak memihak kepada siapapun). Bila hadiah tersebut dari pihak lain di luar hal-hal di atas yang sekiranya tidak ada hubungan dalam profesionalismenya, atau dalam kondisi fitrahnya sebagai manusia dalam masyarakat, hal tersebut adalah hal yang lumrah, mengingat akuntan publik juga manusia biasa yang butuh aktifitas saling memberi dan berbagi.

Landasan :Arens; Elder; dan Beasley. 2004. Auditing, Buku1. Jakarta:Index